TUGAS AKHIR SEMESTER GANJIL
TEHNIK
KOMUNIKASI

Dosen
Pengampu : Drs. Sony Amini Yaman, M.Si
Disusun
oleh:
Allandia
Zahra (F100150021)
Yuliana
Maribet (F100150165)
Kelas
: D
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
HALAMAN PENGESAHAN
Makalah ditulis
oleh : Allandia zahra sauzan suprihono
& Yuliana
Maribet
Judul : Efek komunikasi massa
terhadap budaya, individu,
dan masyarakat
Telah disetujui
sebagai tugas akhir Semester Ganjil Mata
Kuliah Teknik Komunikasi. Pada tanggal
januari 2017.
Mengetahui,
Surakarta, Januari 2017
Petugas
Perpustakaan Penulis
(………………………..) (
......................................)
Dosen Pengampu
Mata Kuliah Teknik Komunikasi
(Drs. Soleh Amini, M.Si)
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Mahakuasa, yang telah
melimpahkan petunjuk,rahmat karunia,
dan hidayah-Nya; sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah “efek komunikasi massa” dengan baik dan
lancar,walaupun dengan segala keterbatasan yang ada.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis
mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan
dukungan kepada penulis.Makalah ini disusun untuk menjadi salah tugas akhir
Ujian Tengah Semester Ganjil mata kuliah Teknik Komunikasi. Penulis berharap,
semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi semua orang dari apa yang
penulis dapatkan dan pelajari.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun
karya tulis ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon
maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu, penulis mengharapkan
segala bentuk kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Surakarta, Januari
2017
Penulis
KATA PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan
sebuah media untuk saling bertukar informasi. Cara ini dikenal dengan istilah
komunikasi. Melalui komunikasi, seseorang dapat menyampaikan sebuah berita,
saling bertukar informasi, mengajukan sebuah gagasan atau ide, maupun
bersosialisasi dengan orang lain. Komunikasi dapat terjadi antara satu orang
dengan orang lain, komunikasi antara dua orang atau lebih, seseorang kepada
sebuah organisasi atau komunitas, bahkan komunikasi yang ditujukan langsung
kepada masyarakat luas. Jenis-jenis komunikasi pun amat beragam. Komunikasi
tidak hanya dilakukan secara tatap muka, namun saat ini sudah dapat dilakukan
melalui media digital atau online. Komunikasi dapat dilakukan melalui perantara
kata-kata dan kalimat, lambang, tanda, maupun tingkah laku. Komunikasi ini
sendiri pun dapat dituangkan dalam berbagai bentuk media, seperti kata-kata,
gambar, angka, tulisan, dan bahkan video.
Sebuah informasi dapat secara cepat tersampaikan kepada masyarakat luas
melalui sebuah media yang disebut sebagai media massa. Media massa adalah
sebuah channel atau tempat yang digunakan sebagai sarana dalam
proses komunikasi massa. Jenis media massa pun bermacam-macam, yang pertama
adalah media massa cetak (printed media) yaitu surat kabar, koran,
majalah, tabloid, dan lain sebagainya. Kemudian yang kedua adalah jenis media
massa elektronik (elektronic media) yaitu seperti radio, televisi, dan
film. Serta yang ketiga adalah media online (digital media) yaitu melalui
program atau channel-channel seperti blog, website, maupun
aplikasi-aplikasi jejaring sosial lainnya. Keuntungan penyebaran informasi
melalui media massa adalah keunggulannya dalam penyampaian informasi yang sama
kepada khalayak ramai dalam waktu relatif serentak.
PEMBAHASAN
Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa (mass
communication) juga bisa disebut sebagai komunikasi media massa (mass media
communication). Maka dari itu, komunikasi massa jelas berarti sebuah cara
berkomunikasi atau penyampaian informasi yang dilakukan melalui media massa (communicating
with media). Ciri khas dari komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang
ditujukan kepada orang banyak atau masyarakat luas melalui perantara media
massa. Jika mendengar kata massa, maka kita dapat mengartikan dengan hal yang
berkaitan dengan kata jamak, massive, serta dalam jumlah yang
sangat banyak. Defisini komunikasi massa yang paling umum adalah cara
penyampaian pesan yang sama, kepada sejumlah besar orang, dan dalam waktu yang
serempak melalui media massa. Komunikasi massa dapat dilakukan melalui
keseluruhan media massa yang ada, yaitu media cetak, media elektronik, serta
media online. Tidak ada batasan media dalam penggunaan komunikasi massa ini. Dan komunikasi
massa adalah jenis kekuatan sosial yang mampu mengarahkan masyarakat dan
organisasi media untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan, seperti
contohnya adalah tujuan sosial.
Definisi paling sederhana dari
komunikasi massa dikemukakan oleh Bittner yang mendefinisikan komunikasi massa
sebagai pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar
orang (Rakhmat, 1999 : 188).
Dengan penjelasan yang lebih sederhana, komunikasi massa adalah komunikasi
melalui media massa, yakni surat kabar, radio, televisi, internet dan
sebagainya. Bila sistem komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi
interpersonal, maka secara teknis ada beberapa ciri komunikasi massa menurut
Elizabeth – Noelle Neuman yang membedakannya dengan komunikasi interpersonal,
yaitu pertama, bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis.
Kedua, bersifat satu arah (one flow communication), artinya tidak ada interaksi
antarpeserta komunikasi. Ketiga, bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada
publik yang tidak terbatas dan anonim. Keempat, memiliki unsur publik yang
secara geografis tersebar (Rakhmat, 1999 : 189). Namun seiring dengan kemajuan
teknologi agaknya ciri kedua perlu dikaji ulang, karena dengan memakai
fasilitas telepon, sms atau teleconference, khalayak dapat mengirimkan komentar
mereka terhadap satu isu yang sedang dibahas di layar televisi, sebagaimana
ketika Sukma Ayu meninggal, para fans yang bersimpati segera mengirim sms ke
berbagai stasiun televisi yang memberi kesempatan berinteraksi melalui beragam
tayangan infotainment. Selain itu, perkembangan teknologi internet semakin
menjadikan media kian tidak berjarak dengan khalayaknya.
Sedangkan Georg Gerbner memberi pengertian komunikasi massa dengan sebuah
definisi singkat yaitu sebagai produksi dan distribusi yang berlandaskan
teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkelanjutan serta paling luas
dipunyai orang dalam masyarakat industri (Rakhmat, 1999 : 188).
Para ahli komunikasi massa mengenal dua sisi dari
kajian mengenai komunikasi massa. Satu sisi menekankan relasi antara media dan
masyarakat yang lebih besar dan lembaga-lembaganya. Para penganutnya tertarik
pada teori yang berkaitan relasi media-masyarakat perhatian terhadap cara media
‘dipasang’ di masyarakat dan pengaruh timbal balik antara struktur sosial yang
lebih besar dan media. Sisi ini dianggap sebagai sisi makro dari teori
komunikasi massa.
Sisi yang kedua menekankan kepada orang-orang
sebagai kelompok atau individu. Sisi ini mencerminkan relasi antara media dan
khalayak. Para penganut teori dalam sisi ini tertarik pada fokus relasi
media-audiens dengan memberi penekanan pengaruh kelompok dan individu dan hasil
dari transaksi media. Sisi kedua ini dianggap sebagai sisi mikro dari teori
komunikasi.
Model ini mengandung arti bahwa dua sisi ini adalah
dua hal yang berbeda, namun pada kenyataan mereka adalah hal yang sama dilihat
dari perspektif yang berbeda. Relasi antara media dan lembaga adalah mungkin
hanya melalui transaksi media dengan khalayak, dan relasi media adalah tidak
mungkin untuk memisahkan dari lembaga dari masyarakat di mana khalayak ini
tinggal. Sehingga, model ini bukan merupakan peta proses komunikasi massa namun
menggambarkan area penelitian media dan teori
Sejarah Komunikasi Massa
Komunikasi massa sendiri memiliki sejarah yang
panjang. Pada mulanya masyarakat kuno menggunakan bahasa oral dan isyarat untuk
berkomunikasi. Suku Indian menggunakan asap sebagai bahasa isyarat untuk
berkomunikasi dalam jarak yang jauh, masyarakat muslim tradisional di Indonesia
memakai bedug untuk mengabarkan datangnya waktu sholat dan serombongan anak
remaja sering berkeliling kampung di saat Bulan Ramadhan dengan beraneka alat
musik sederhana, seperti kentongan dan galon air mineral untuk membangunkan
masyarakat tatkala waktu sahur datang . Namun bukan berarti di era modern ini
komunikasi massa yang sederhana ini sudah hilang dari peradaban. Di pedesaan,
kentongan masih digunakan untuk memanggil warga desa jika ada pertemuan di
balai desa atau jika terjadi ada bencana alam. Di perkotaan, ketika Bulan
Ramadhan datang, banyak anak-anak muda yang membunyikan berbagai alat musik
sederhana, kentongan, galon air mineral dan sebagainya untuk membangunkan
masyarakat untuk sahur.
Penemuan tekonologi komunikasi yang semakin modern, membuat teori komunikasi massa menjadi semakin signifikan dalam kehidupan manusia. Internet, komputer, satelit dan telepon genggam adalah beberapa perkakas komunikasi massa yang banyak digunakan masyarakat modern baik secara langsung maupun tidak langsung. Memang kita tidak pernah secara langsung bersinggungan dengan satelit, namun ketika kita menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi, secara tidak langsung kita memanfaatkan fasilitas satelit yang berada jauh di antariksa.
Dewasa ini akses internet tidak lagi terbatas pada wilayah yang terjangkau
jaringan telepon, namun cukup dengan komputer, modem dan telepon genggam yang
dilayani operator yang memberi fasilitas akses internet maka kita tinggal klik.
Bahkan dengan PDA (Personal Digital Assistant), hanya dengan komputer mini yang
sudah dilengkapi fasilitas teknologi seluler, kita dapat mengakses semua
informasi via internet. Publikasi berita juga tidak perlu lagi melalui alur
yang kompleks, dari peliputan sampai distribusi, namun satu orang saja sudah
mampu melakukan publikasi berita melalui situs pribadi di internet.
Perkembangan teknologi ini menjadikan kajian komunikasi massa semakin menarik untuk dipelajari.
Kajian komunikasi massa tentu saja selalu berhubungan
dengan perkembangan komunikasi massa, karena itulah komunikasi massa menjadi
kajian dari ilmu komunikasi yang paling menarik. Sebab utama yang menjadikan
kajian komunikasi massa menjadi kajian yang selalu menarik adalah perkembangan
media massa yang mengalami perkembangan pesat dewasa ini serta semakin
tergantungnya manusia dengan keberadaan media massa. Untuk membuktikan
ketergantungan kita dengan media massa silahkan mencoba hal ini. Anda di rumah
saja dengan tidak membaca koran, melihat berita di televisi, mendengar berita
di radio dan mengakses situs berita di internet selama satu minggu. Singkatnya
selama satu minggu jangan sekalipun mengkonsumsi media massa. Setelah satu
minggu hidup tanpa media massa, Anda kemudian kembali ke komunitas Anda, baik
kampus, lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja Anda. Apa yang terjadi
ketika Anda kembali ke komunitas Anda mudah ditebak. Anda pasti akan seperti
Tarzan yang baru keluar dari belantara, karena kesulitan mengimbangi
pembicaraan rekan-rekan Anda, ringkasnya Anda akan dianggap kuper (kurang
pergaulan), gara-gara tidak mengkonsumsi media massa selama satu minggu saja.
Karakteristik Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki beberapa karakteristik. Ciri-ciri komunikasi
massa ini dapat diibagi kedalam 4 tanda pokok komunikasi massa. Keempat tanda
pokok karakteristik komunikasi massa ini disampaikan oleh seorang ahli yaitu
Suprapto. Ciri-ciri menurut Suprapto, 2006 : 13 tentang keempat tanda pokok
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Komunikasi massa memiliki sifat komunikan
Hal ini karena sasaran komunikasi massa adalah masyarakat yang relatif
besar serta memiliki sifat yang heterogen dan anonim. Masyarakat ini tidak
dapat diukur berapa banyak jumlahnya, bagaimana latar belakang pendidikan,
usia, agama, suku, jenis pekerjaan, dan lain sebagainya. Hal yang dapat
menjadikan semua perbedaan ini melebur adalah kesamaan minat dan kepentingan
yang sama.
2. Komunikasi massa memiliki sifat cepat dan serentak
Penyampaian pesan secara serempak ini dilakukan secara bersamaan oleh
komunikator kepada komunikan yang memiliki jumlah yang besar. Jika disampaikan
secara serentak, maka perhatian komunikan akan berfokus pada pesan yang
disampaikan oleh komunikator. Sifat penyampaian pesan yang cepat akan
memungkinkan pesan tersebut dapat tersampaikan dalam waktu yang relatif
singkat.
3. Komunikasi massa memiliki sifat publik
Sudah jelas bahwa pesan yang ingin disampaikan tersebut ditujukan kepada
masyarakat luas, bukan kepada golongan tertentu saja. Sehingga isi pesan yang
disampaikan harus lebih umum. Karena mencakup lingkungan yang umum dan
universal.
4. Komunikator yang terkoordinir
Karena media massa merupakan sebuah lembaga organisasi, maka komunikasi massa
pasti memiliki komunikator yang telah terorganisasi dengan baik dan profesional
seperti jurnalis, sutradara, penyiar atau pembawa acara, dan lain sebagainya.
Pesan yang akan disampaikan tersebut merupakan hasil kerjasama tim, sehingga
keberhasilan sebuah komunikasi massa juga tergantung berdasarkan berbagai
faktor di dalam organisasi media massa tersebut.
Selain keempat tanda pokok tersebut, komunikasi massa memiliki
karakteristik komunikasi massa konsep klasik. Konsep-konsep tersebut
diantaranya adalah ditujukan kepada masyakarat luas, yang heterogen, tersebar,
serta tidak terbatas pada batas geografis dan kultural. Karakteristik konsep
klasik lainnya adalah bersifat umum, cara penyampaian pesan yang cepat dan
menjangkau banyak orang dalam waktu yang singkat, penyampaian pesan bersifat
satu arah, kegiatan komunikasi dilakukan dengan secara terencana dan terkonsep,
komunikasi dilakukan secara periodik atau berkala, serta pesan yang disampaikan
melingkupi seluruh aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
A. Efek Komunikasi Massa Terhadap Budaya
Kerap kali hal yang
ditampilkan dalam media, baik media cetak, media elektronik, maupun media
digital akan berbeda bagi setiap kebudayaan yang dianut oleh masing-masing
daerah. Misalnya saja mengenai cara berbusana. Gaya berbusana di masing-masing
negara tentu berbeda, namun ketika media massa menayangkannya, hal tersebut
akan mempengaruhi selera fashion di daerah lain. Berikut teori-teorinya ;
1. Teori Agenda – Setting
Agenda-setting
diperkenalkan oleh McCombs dan Dl. Show dalam Public Opinion Quartely tahun
1972, berjudul The Agenda – Setting Function of Mass Media. Asumsi dasar teori
agenda – setting adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa,
maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi,
apa yang dianggap penting bagi media, maka penting juga bagi
masyarakat. Oleh karena itu, apabila media massa memberi perhatian pada isi
tertentu dan mengabaikan yang lainnya, akan memiliki pengaruh
terhadap pendapat umum. Asumsi ini berasal dari asumsi lain bahwa media massa
memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan
proses belajar dan bukan dengan perubahan sikap dan pendapat. Teori
agenda-setting menganggap bahwa masyarakat akan belajar mengenai isu-isu apa,
dan bagaimana isu-isu tersebut tersusun berdasarkan tingkat kepentingannya.
McCombs dan Donald Shaw mengatakan
pula bahwa Audience tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya
melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting
diberikan suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan
terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh
para kandidat dalam suatu kampanye Pemilu. Media massa terlihat menentukan mana
topik yang penting. Dengan kata lain, media massa menetapkan “agenda” kampanye
tersebut dan kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu ini
merupakan aspek penting dari kekuatan komunikasi massa.
2. Teori Dependensi
Teori yang dikembangkan oleh Sandra
Ball. Rokeach dan melvia L. Defleur memfokuskan perhatiannya pada kondisi
struktural suatu masyarakat yang mengatur kecendrungan terjadinya suatu efek
media massa. Teori ini pada dasarnya merupakan suatu pendekatan struktur sosial
yang terangkat dari gagasan mengenai sifat suatu masyarakat modern (masyarakat
massa), dimana media massa dapat dianggap sebagai informasi yang memiliki peran
penting dalam proses pemeliharaan, perubahan dan komplik pada tatanan
masyarakat, kelompok atau individu dalam aktivitas sosial. Pemikiran terpenting
dalam teori ini adalah bahwa dalam masyarakat modern, audience menjadi
tergantung pada media massa sebagai sumber informasi bagi pengetahuan tentang
dan orientasi kepada apa yang terjadi dalam masyarakat.
Menurut (Sendjaya, 2002; 5.27)
pembahasan lebih lanjut mengenai teori ini
ditujukan pada jenis-jenis efek yang dapat dipelajari melalui teori ini.secara
ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.
Kognitif,
menciptakan atau menghilangkan ambiglitas, pembentukan sikap, agenda-setting,
perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/penjelasan nilai-nilai.
b.
Afektif,
menciptakan ketakutan atau kecemasan dan meningkatkan atau menurunkan dukungan
moral.
c.
Behavioral,
mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau
penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas
atau menyebabkan perilaku dermawan.
3. Spriral of Silence
Teori Spiral
of Silence atau Spiral kebiusan berkaitan dengan pertanyaan mengenai bagaimana
terbentuknya pendapat umum. Ditemukan pertama kali oleh Elizabeth
Noelle-Neuman, Sosiolog Jerman, pada tahun 1974. Teori ini
menjelaskan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut terletak dalam suatu proses
saling mempengaruhi antara komunikasi massa. Komunikasi antar pribadi dan
persepsi individu atas pendapatnya sendiri dalam hubungannya dengan pendapat
orang lain dalam masyarakat.
Teori ini berdasarkan asumsinya pada
pemikiran sosial-psikologi tahun 30-an yang menyatakan bahwa pendapat pribadi
sangat tergantung pada apa yang dipikirkan oleh orang lain. Atau atas apa yang
orang rasakan sebagai pendapat dari orang lain, perangkat dari asumsi tersebut.
Spiral of Silence selanjutnya menjelaskan bahwa individu pada umumnya berusaha
untuk menghindari keyakinan tertentu. Oleh karenanya, orang yang akan mengamati
lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan
mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer, jika orang
merasakan bahwa pandangannya termasuk diantara yang tidak dominan dan populer,
maka ia cenderung kurang berani mengekpresikannya karena adanya ketakutan akan
isolasi tersebut.
4. Information Gaps
Latar
belakang pemikiran ini terbentuk oleh arus informasi yang terus meningkat, yang
sebagian besar yang dilakukan oleh media massa. Secara teoritis peningkatan ini
akan menguntungkan sikap orang dalam masyarakat karena setiap individu
sekelilingnya atau di dunia yang tentunya akan membantu dirinya
dalam memperluaskan. Namun informasi seringkali menghasilkan efek
negatif, dimana peningkatan pengetahuan pada kelompok tertentu akan
menjauh dan meninggalkan kelompok lainnya. Dalam hal seperti ini
Information Gaps akan terjadi dan terus meningkat sehingga menimbulkan jarak
antara kelompok sosial yang satu dengan yang lainnya dalam hal
pengetahuan mengenai suatu topik tertentu.
Everret M. Rogers mengatakan bahwa,
informasi bukan hanya menghasilkan melebarnya Knowledge Gaps, tetapi juga gaps
yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Menurutnya komunikasi massa bukan satu-satunya
penyebab terjadinya gaps tersebut, tetapi efek juga terjadi pada
komunikasi langsung antar individu (Sedjaja, 2002, 5.30)
5. Uses and Gratifications
Model ini
merupakan pergeseran fokus dan tujuan komunikator ketujuan
komunikan. Model ini menentukan fungsi komunikasi massa dalam melayani
khalayak.
Model ini
menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana
media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi
kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. jadi, bobotnya ialah pada khalayak yang
aktif yang sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus.
Mengenai
kebutuhan biasanya orang merujuk kepada hirarki kebutuhan (need hierarchy) yang
ditampilkan oleh Abraham maslow (1954), ia membedakan lima perangkat kebutuhan
dasar.
a.
Physiological
needs (kebutuhan fisiologi)
b.
Safety needs
(kebutuhan keadaan)
c.
Love needs
(kebutuhan cinta)
d.
Esteem needs
(kebutuhan penghargaan)
e.
Self-actualization
needs (kebutuhan aktualisasi diri.
6. Cultural Norms Teory (Teori
norma Budaya)
Teori norma
budaya menurut Melvin Befleur hakikatnya adalah bahwa media massa melalui penyajiannya yang
selektif dan penekanannya pada tema-tema tertentu, menciptakan
kesan-kesan khalayak dimana norma-norma budaya umum mengenai topik yang diberi bobot
itu, dibentuk dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, perilaku individual
biasanya dipandu oleh norma-norma budaya mengenai suatu hal tertentu. Maka
media komunikasi secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku.
Dalam
hubungan ini terdapat paling sedikit tiga cara dimana media secara potensial
mempengaruhi situasi dan norma bagi individu-individu.
1)
Pesan
komunikasi massa akan memperkuat pola-pola yang sedang berlaku dan memandu
khalayak untuk percaya bahwa suatu bentuk sosial tertentu tengah dibina oleh
masyarakat.
2)
Media
komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal-hal dimana khalayak
sedikit banyak telah memiliki pengalaman sebelumnya.
3)
Komunikasi
massa dapat mengubah nama-nama yang tengah berlaku dan karenanya mengubah
khalayak dari suatu bentuk perilaku menjadi perilaku yang lain.
B.
EFEK
KOMUNIKASI MASSA TERHADAP MASYARAKAT SOSIAL
Efek ini berkaitan erat
dengan karakter yang dimiliki oleh seseorang. Masyarakat akan menilai
berdasarkan pembawaan, interaksi, serta cara berfikir seseorang sesuai dengan
apa yang ditunjukkan oleh media. Media massa secara tidak langsung akan
‘mengajak’ masyarakat untuk memberikan penilaian yang sama terhadap seseorang
berdasarkan penilaian dari media massa itu sendiri.
Pengaruh yang ditimbulkan komunikasi massa berdasarkan
teori kontemporer Pengaruh media terhadap masyarakat telah menumbuhkan
pembaharuan-pembaharuan yang cepat dalam masyarakat. Pembaharuan yang berwujud
perubahan ada yang ke arah negatif dan ada yang ke arah positif. Pengaruh
media tersebut berkaitan dengan aspek-aspek lain seperti sifat komunikator,
isi/informasi dari media itu sendiri, serta tanggapan dari masyarakat.
Sadar atau tidak sadar masyarakat sering dipengaruhi
oleh media massa, misalnya media membujuk untuk menggunakan suatu produk
tertentu ataupun secara tidak langsung membujuk untuk mendukung ideologi
politik tertentu maupun partai tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut, ada
beberapa teori kontemporer yang berkaitan dengan pengaruh komunikasi massa yang
digolongkan dalam empat bagian, yaitu:
·
Teori
perbedaan Individu, Menurut teori ini terdapat kecendrungan baru dalam
pembentukan watak sesorang melalui proses belajar. Adanya perbedaan pola pikir
dan motivasi didasarkan pada pengalaman belajar. Perbedaan individu disebabkan
karena perbedaan lingkungan yang menghasilakan perbedaan pandangan dalam
menghadapi sesuatu. Lingkungan akan mempengaruhi sikap, nilai-nilai serta
kepercayaan yang mendasari kepribadian mereka dalam menaggapi informasi yang
datang. Dengan demikian pengaruh media terhadap individu akan berbeda-beda satu
sama lain.
·
Teori
Penggolongan Sosial, Penggolongan sosial lebih didasarkan pada tingkat
penghasilan, seks, pendidikan, tempat tinggal maupun agama. Dalam teori ini
dikatakan bahwa masyarakat yang memiliki sifat-sifat tertentu yang cenderung
sama akan membentuk sikap-sikap yang sama dalam menghadapi stimuli tertentu.
Persamaan ini berpengaruh terhadap tanggapan mereka dalam menerima pesan yang
disampaikan media massa.
·
Teori
Hubungan Sosial, Menurut teori ini kebanyakan masyarakat menerima pesan yang
disampaikan media banyak di peroleh melalui hubungan atau kontak dengan orang
lain dari pada menerima langsung dari media massa. Dalam hal ini hubungan antar
pribadi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap penyampaian informasi oleh media.
·
Teori
Norma-Norma Budaya, Teori ini menganggap bahwa pesan/informasi yang disampaikan
oleh media massa dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkan tafsiran yang
berbeda-beda oleh masyarakat sesuai dengan budayanya. Hal ini secara tidak langsung
menunjukkan bahwa media mempengaruhi sikap individu tersebut. Ada beberapa cara
yang ditempuh oleh media massa dalam mempengaruhi norma-norma budaya. Pertama,
informasi yang disampaikan dapat memperkuat pola-pola budaya yang berlaku serta
meyakinkan masyarakat bahwa budaya tersebut masih berlaku dan harus di patuhi.
Kedua, media massa dapat menciptakan budaya-budaya baru yang dapat melengkapi
atau menyempurnakan budaya lama yang tidak bertentangan. Ketiga, media massa
dapat merubah norma-norma budaya yang telah ada dan berlaku sejak lama serta
mengubah perilaku masyarakat itu sendiri.
C. EFEK KOMUNIKASI MASSA TERHADAP INDIVIDU
Mc Luhan mengemukakan media is the message,
media adalah pesan itu sendiri. oleh karena itu, bentuk media saja sudah mempengaruhi
khalayak.
Menurut Steven A. Chafee, komunikasi
masa memiliki efek-efek berikut terhadap individu:
1. Efek Ekonomis
Menimbulkan berbagai produksi, distribusi, dan konsumsi jasa media massa,
membuka lowongan pekerjaan. Sudah jelas, bahwa kehadiran media massa
menggerakkan berbagai usaha. Mulai dari mereka yang memiliki usaha misalnya,
usaha rumah makan dapat membayar iklan untuk menarik para penikmat kuliner
lewat media entah lewat media elektronik maupun media cetak. Dan bisa di
pastikan lebih banyak peminatnya jika di bandingkan dengan usaha yang tidak di
iklankan. Sampai kepada kesempatan membuka lowongan pekerjaan untuk
memperlancar usaha rumah makan tersebut.
2. Efek Social ( Menunjukkan status )
Efek ini berkenaan dengan karakter, bagaimana kita dapat menilai
seseorang yang dipengaruhi oleh media massa, hasil dari perilaku, cara
berfikir, pembawaan, interaksi terhadap seseorang atau khalayak yang
bersamanya, dll merupakan bagian dari efek sosial.
Semisal seorang pemuda yang merasa puas dengan kepintarannya lalu ia tidak
melanjutkan pendidikan kejenjang universitas dan ia memanfaatkan media Koran
untuk mengetahui informasi yang ada, dengan seorang pemuda pintar lalu ia
berniat dan tekun untuk melanjutkan kejenjang universitas dan sama memanfaatkan
media Koran yang ada.
Walaupun pemuda pintar namun ia tidak kuliah, dan ia piawai dalam memahami
ranah pemerintahan melalui Koran yang ia baca dengan memakai sedikit emosi dan
teori yang ia dapat di bangku sekolah dulu dan mendengarkan pendapat dari teman
yang sama dengannya. Tentu berbeda dengan pemuda yang kuliah dan mendapat teori
secara efektif, lingkungan berpendidikkan, menggunakan media koran lalu
memanfaatkan media internet untuk membuat dan mewakili semua pendapatnya,
sedikit emosi, namun tertata beberapa teori yang dapat menahan semua emosi yang
ada, lalu mendapat hasil yang lebih baik dari pemuda tanpa teori universitas
merupakan salah satu contoh efek social dari media massa.
3. Efek penjadwalan kegiatan
Kehadiran media massa membuat aktivitas sehari-hari berpangaruh terhadap
adanya media. Di pagi hari, biasanya masyarakat kota membaca Koran dahulu, Di
malam hari, dimana anak-anak seharusnya tidur, tapi malah menonton tv.
4. Penyaluran perasaan
Sering terjadi bila seseorang menggunakan media untuk menghilangkan perasaan
tidak enak, misalnya kesepian, marah, kecewa, Media dipergunakan tanpa
mempersoalkan isi pesan yang disampaikan. Dengan melihat berbagai acara yang di
tampilkan oleh televisi misalnya seseorang secara tiba-tiba akan tertawa dan
menangis sendiri karena melihat adegan dalam acara televisi tersebut.
5. Efek penyaluran perasaan terhadap media
Kehadiran media massa juga menumbuhkan perasaan tertentu. Kita memiliki
perasaan positif atau negatif pada media tertentu. Tumbuhnya perasaan senang
atau percaya pada media massa tertentu mungkin erat kaitannya dengan pengalaman
individu bersama media massa tersebut, faktor isi pesan mula-mula amat
berpengaruh, tetapi kemudian jenis media itu yang diperhatikan,apa pun yang
disiarkannya.